Problematika Ibu Bekerja


Pertanyaan

Pertanyaan 1 : Gmn caranya biar anak gk merasa kehilangan,d saat k 2 ortu ny bkrj ya
Pertanyaan 2 : babyku msh 6bln lg lucu2nya,rsny ga mo khilangan 1 momen pun prkmbangan si kecil maklum anak ptama,pdhal pgn krja lg ada ibu mertua tp ko rs ga pcaya aja ya soalnya beda pndangan aja cr pngasuhan anak jd ada rs tkt dmcm2in klo ibuku tnggl d luar pula…u sih klo ada ibuku psti aku lbh milih dia. wajar ga sih?
Pertanyaan 3:  Sy sbnrnya tdk ingin memarahi anak saya (4,5 th), kasian klo udah lht dia nangis, tp tiap pagi dia sll mmancing emosi sy, sbnrnya urusan k sekolah dia rajin, g pnah mogok, tp untuk mandi & makan selalu rewel, udah sy jg mesti buru2 krn hrs k kan…tor, pmbantu g bs mghandle, jdlah tiap hr ribut, dg kata2 yg lmbut udah pnah dcoba, tp g mempan, anak sy sll bikin gara2, pusing deh…

 

Jawaban

Assalamu’alaykum wr wb,

Dear Ibu Lilis, Ibu Rizki dan Ibu Hanifah…. Subhanallah… Saya bisa membayangkan dan merasakan bagaimana sebagai Ibu Rumah Tangga yang juga bekerja di luar rumah harus pandai me-manage waktu agar semua urusan bisa terkendali dengan baik.

Ibu, semua anak, pada fitrahnya ingin dekat dengan orangtuanya, terutama dengan ibunya. Bagaimana tidak, 9 bulan berada di rahim Ibu, tak terpisahkan, lalu setelah 3 bln habis masa cuti, si kecil harus berpisah dengan ibunya dalam jangka waktu yang cukup lama.

Jadi, sebenarnya, bila anak merasa kehilangan atau cari2 perhatian ketika Ibu akan bekerja, itu adalah hal yang sangat lumrah. Apalagi pada anak usia lahir – 2 thn yg memang sedang mengembangkan kelekatan dengan orgtuanya. Jadi, tidak mungkin rasa kehilangan itu dihilangkan dari diri anak, kecuali memang anak merasa Ibu bukan lah lagi org yg signifikan/berarti bagi dirinya. Yang bisa kita lakukan adalah me-manage perilaku kita sebagai orgtua, juga me-manage perilaku anak, sehingga anak berperilaku sesuai dengan apa yg kita harapkan.

Pada dasarnya, anak melakukan berbagai hal (baik positif atau negatif) adalah untuk mendapat perhatian dari orgtuanya. Karena itu, satu2nya hal yg harus orgtua lakukan adalah dengan memberikan perhatian yg memang dibutuhkannya. Memberi perhatian pada si kecil, bukan berarti kita memanjakannya atau mengabulkan semua yg dia inginkan.
Berikan perhatian lebih melalui reward pada perilaku positif yang ditampilkan anak. Misalnya : saat anak bisa dan mau makan sendiri, Ibu bisa mengatakan "MashaALLAH… Kakak hebat sekali… Bisa makan sendiri. Ibu bangga dan senang sekali deh!"atau "Wuihhh… Jagoan Ibu memang hebat!!! Sudah bisa makan sendiri!". Reward tidak perlu selalu dalam bentuk hadiah. Pujian, pelukan dan ciuman serta sikap Ibu yg tulus saat memuji jauh lebih berarti buat anak ketimbang Ibu membanjirinya dengan berbagai hadiah sebagai pengganti "rasa bersalah" karena sudah meninggalkan anak karena harus bekerja. Seringkali kita sebagai orgtua lebih memberi "perhatian" pada perilaku anak yg cenderung negatif dan hanya menganggap wajar/biasa ketika anak menampilkan perilaku positif. Karena itu, tak heran bila anak juga akan cenderung menampilkan perilaku yg negatif karena kita akan lebih memperhatikannya meskipun perhatian yg kita berikan juga sifatnya negatif (omelan atau hukuman).

Selain itu, spesial time juga akan sangat membantu sebagai sarana "memenuhi" kebutuhan perhatian anak. Jadwalkan dalam agenda harian/mingguan Ibu ada waktu spesial yg harus Ibu berikan untuk masing2 anak. Waktunya tak perlu lama, cukup sekitar 30 menit perhari atau 2-3 jam per minggu untuk setiap anak. Saat itu, Ibu bisa melakukan berbagai aktivitas bersama anak, seperti baca buku bersama, bermain, jalan pagi/sore bersama, bersepeda, berenang, atau bahkan memasak makanan yg disukai anak bersama2. Sewaktu spesial time itu, Ibu juga bisa "menyelipkan" nilai2 moral atau harapan Ibu terhadap anak dengan bahasa yg mudah dipahami anak. Hal ini sangat baik bila dikombinasikan melalui dongeng atau cerita yg sarat nilai2 yg ingin ditanamkan kepada anak.

Usaha2 yg saya sebutkan di atas tidak bisa memberikan hasil yg instan. Mungkin, bentakan, teriakan yg disertai mata yg melotot akan bisa membuat anak diam seketika. Tetapi itu tidak akan memberikan efek yg baik buat anak. Jadi, Ibu perlu konsisten dalam berusaha dan jangan lupa pula disertai do’a agar ALLAH SWT menjadikan kita termasuk orgtua yg bisa bershabar, bijaksana dan cerdas dalam mendidik anak2 kita. InshaALLAH, usaha yg konsisten juga do’a dari Ibu pastinya akan memberikan hasil yg signifikan pada pembentukan karakter dan perilaku anak.

Oh ya, satu lagi, karena kita bekerja, maka kita perlu asisten atau org yg bisa membantu kita mendidik dan mengasuh anak2. Jadi, pilihlah asisten yg baik, dan berikan "training" mengenai pola asuh dan disiplin yg diterapkan di rumah sehingga tidak ada perbedaan antara pola asuh dan disiplin yg kita terapkan dengan pola asuh dan disiplin yg diterapkan oleh siapa pun (misalnya orgtua, mertua, baby sitter) yg membantu kita dalam mengasuh si kecil di rumah.

Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat untuk Ibu2 semua. Peluk cium saya untuk si kecil ya Bu….

Wassalamu’alaykum wr wb
Fajriati Maesyaroh, Psi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: