Mengatasi Egoisme si Balita


Pertanyaan

Saya pnya anak umur 3,5thn n 3bln,anak y 1 lg egois bngt n klo mnta dipenuh/tdk psti nangis. Kdg jd tpancing emosi jga kr saya tau umur 3-5thn mmg spt itu. Bgmn cr agar kta sbg ortu tdk tpancing n bgmn cr ngasih pengertian ke anak kr anak 1 saya akan dititip kan keortu suami saya tkut jd +egois anak saya,thanks atas jawabannya

Jawaban

Assalamu’alaykum wr wb,

Dear Ibu Fita, seperti yg ibu pahami, anak-anak usia 3 – 5 thn memang sering kali menampilkan perilaku yang menurut kita cukup “menyebalkan”. Pada usia tersebut anak mulai mengembangkan otonomi dirinya sehingga perilaku yang tampak adalah anak terlihat sangat egois, susah diatur, semaunya sendiri, mudah marah/tantrum. Sebenarnya, ALLAH SWT menjadikan adanya periode “menyebalkan” tersebut, pastinya bukan tanpa maksud. Periode “menyebalkan” tersebut ternyata merupakan dasar bagi anak untuk mengembangkan kemandirian dan kemampuan untuk belajar menunda dorongan/keinginan yg ada dalam dirinya. Tentunya, untuk “lulus” dalam tahapan ini, anak sangat2 membutuhkan bantuan dari kedua orgtuanya. Orgtua serta lingkungan terdekatnya lah yg akan menentukan apakah si anak kemudian akan mengembangkan kepribadian yang mandiri, bisa bersabar, bisa menerima bahwa tidak semua keinginannya dapat terpenuhi serta bisa berbagi dengan org lain, atau justru sebaliknya. Karena itu, mutlak diperlukan keshabaran yg luar biasa dari para orgtua dalam menghadapi mereka.

Biasanya, kita mudah terpancing emosi saat kita merasa lelah. Kelelahan fisik maupun psikologis akan sangat mudah membuat kita marah bila anak menampilkan perilaku yg tidak kita harapkan. Coba deh kita ingat2 sejenak. Biasanya, bila kita dalam kondisi yg fresh, kita akan jauh lebih sabar menghadapi anak2 ketimbang bila kita dalam kondisi lelah atau sedang memiliki konflik. Lalu, bagaimana supaya kita bisa tetap fresh dalam menghadapi anak2?

Pertama, Ibu dan Bapak harus kompak dan memiliki kesepakatan bersama dalam pola asuh terhadap anak. Mendidik anak bukan hanya tugas ibu, tetapi seorg bapak pun memegang peranan yg tak kalah penting dalam menanamkan berbagai karakter pada anak, terutama bila sang anak adalah anak laki2. Saling pengertian dan adanya kerjasama antara Ibu dan Bapak akan membuat tugas mendidik anak jauh lebih mudah dan menyenangkan karena kita dan suami bisa saling menguatkan dan mengingatkan.

Kedua, Bila anak berteriak2, marah2, menangis atau ngambek, maka Ibu cukup mengingatkan saja akan ketidaksukaan Ibu bila ia berperilaku seperti itu. Misalnya, anak berteriak-teriak minta dibuatkan susu, maka yg bisa Ibu lakukan adalah memegang kedua tangannya, tatap matanya dengan lembut, dan katakan dengan tegas (BUKAN MARAH) : “Maaf, Ibu sedih sekali bila Kakak berteriak-teriak seperti itu. Coba Kakak minta dengan cara yg baik, ‘Ibu, tolong bikinkan aku susu dong?’”. Bila kemudian anak bisa meminta dgn cara yg baik, maka berilah reward “Subhanallah… Hebat!!! Anak yg sholeh tentunya bisa meminta dgn cara yg baik. Kamu mmg anak Ibu yg sholeh.” Lalu segeralah bikinkan susu yg diminta nya. Tetapi bila ia tetap berteriak-teriak sambil menangis, cukup ingatkan sekali lagi, “Maaf Kakak, Ibu sedih sekali karena Kakak masih berteriak2 seperti Itu. Coba minta yg baik.” Bila anak masih marah2, maka tinggalkan dia dan jangan ambil peduli selama ia masih berteriak2 atau menangis. Biarkan saja anak menangis sampai berhenti dengan sendirinya dan jangan ada satu org pun di rumah yg berusaha mendekatinya. Bila sudah berhenti menangis, segeralah dekati anak, peluk dan cium dia, dan katakan “Ibu sangat2 sayang pada Kakak. Ibu tau, Kakak anak yg baik. Kakak tadi mau minta apa ya? Minta susu ya? Ibu sudah bikin kan susunya di dapur. Coba Kakak minta yg baik sama Ibu.” Biasanya, anak lalu dgn terbata2 akan mencoba meminta dgn cara yg lebih baik. Bila demikian, berilah dia pujian dan segera ambilkan susu nya.
Tentunya hal ini tidak bisa instan. Perlu 2, 3 atau 5 kali lagi kejadian, baru lah anak akan konsisten menampilkan perilaku yg baik saat meminta sesuatu. Dalam hal ini, konsistensi Ibu sangat mutlak diperlukan.

Ketiga, bila Ibu dalam keadaan lelah baik fisik atau pun psikologis, maka Ibu butuh “time out” saat anak menampilkan perilaku yg tdk diharapkan. Jadi setelah Ibu mengungkapkan perasaan Ibu pd anak (seperti pd cara yg ke2 di atas), Ibu perlu menenangkan diri agar siap menghadapi anak. Misalnya saja : Ibu bisa menarik nafas panjang sambil beristighfar, pergi dari ruangan di mana anak marah2, berwudhu, atau sholat sunnah 2 rakaat agar bisa lebih tenang.

Keempat, mengerjakan tugas2 rumah yg tiada henti pastinya menimbulkan kelelahan tersendiri pada diri setiap Ibu. Karena itu, setiap Ibu sebaiknya memiliki waktu luang untuk diri Ibu sendiri sehingga Ibu bisa refresh dan siap menghadapi rutinitas di rumah. Memanjakan diri ke salon, bertemu sahabat, mendengarkan musik, membaca buku, mengerjakan hobi yg sudah lama ditinggalkan, atau sekedar luluran sendiri di rumah bisa menjadi alternatif kegiatan yg bisa Ibu lakukan sebagai refreshing.

Kelima, memotivasi diri bahwa menjadi Ibu adalah tugas yg sangat mulia dari ALLAH SWT. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Tidak ada balasan yg lebih baik selain surgaNYA ketika kita berjuang saat hamil, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak2 kita sampai mereka kelak menjadi pribadi2 yg sholeh, mandiri dan bahagia.

Mengenai rencana menitipkan si Kakak kepada nenek dan kakeknya, sebaiknya dikaji ulang lagi karena figur Ibu dan Bapak akan sangat diperlukan anak dalam mengembangkan kepribadiannya. Saya tidak tahu apa motivasi Ibu dan Bapak untuk menitipkan si Kakak dan untuk berapa lama, apakah hanya untuk beberapa hari? minggu? bulan? tahun? Karena hal ini akan sangat berpengaruh pada treatment yg akan kita berikan. Misalnya : motivasi Ibu dan bapak hanya ingin agar anak belajar menginap dan waktunya hanya 2 hari, maka hal2 yg perlu kita siapkan (baik pd diri si anak, kita sbg orgtua dan kakek nenek sbg org yg akan dititipi) pastinya akan berbeda ketika motivasi kita adalah : karena Bpk tugas ke luar kota selama 3 bulan, Ibu diminta menemani, sedangkan si Kakak sudah bersekolah, dan tentunya akan jauh berbeda lagi bila motivasinya : Bapak pindah ke luar kota untuk bekerja, Ibu harus menemani, tidak ada asisten rumah tangga yg bisa membantu, atau bila motivasinya karena kakek dan nenek memang meminta si Kakak tinggal bersama mereka.

Yang jelas, Ibu dan Bapak perlu mengkaji ulang kembali dgn jernih rencana menitipkan si Kakak, jangan sampai kelak anak merasa disisihkan oleh orgtuanya sendiri (meskipun hal itu mnrt orgtua adalah untuk kepentingan/kebaikan anak).

Demikian jawaban saya, semoga bisa bermanfaat. Salam sayang saya untuk anak2 ya Bu….

Wassalamu’alaykum wr wb
Fajriati Masyaroh, Psi

One response

25 05 2011
Muinah,S.Pd.I

Ass. bu. Saya ingin bertanya, saya mempunyai putri berumur 4 th. Dalam kesehariannya anak saya terkadang sulit dikendalikan apa lg kl sedang ngambek, kadang dia teriak, memukul2 sesuatu atau melempar sesuatu yg ada didekatnya. Kalau sdh seperti itu sering sekali saya kasih pengertian kalau hal itu tidak baik dan tidak boleh. Terkadang kalau lg dalam keadaan biasa, saya suka tanya “kenapa sih kalau nangis hrs pukul atau lempar susuatu ? ” dia jawab katanya dia kesel/sebel kalau apa yg dia minta tdk langsung dituruti. Bagaimana seharusnya sikap saya mengatasi sikap anak yang seperti itu. Mohon masukannya, terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: