Mencegah Anak Bicara Kotor


 

Pertanyaan

Di film"Meet theFoker" ada batita yang mengucapkan kata pertamanya ass hole.Ia tentu saja
tidak mengerti maksudnya, sekadar menirukan orang dewasa yang mengucapkannya. Menariknya, banyak dijumpai batitayangmengucapkan kata-kata tidak senonoh tanpa mengerti maksudnya, misalnyaorangtuasering menggunakan kata giling, sial,diamput, umpatan dengan menyebut namabinatang dan sebagainya. Karena sering mendengar anak jadi ikut-ikutan.Makindilarang, apalagi
kalau orangtua nampak panik saat mendengar anaknya"mengumpat", anak makin senang mengulanginya.
Bagaimanamencegah hal tersebut terjadi?Efektifkah kalau orangtua mengumpatdenganbahasa asing,
misalnya. Kalausudah terlanjur, apa yang harus dilakukan orangtua. bagaimana mengatasinya ?
Bagaimanamembatasi pengaruh omongan jorok ini dari luar, misalnya dari Mbak-nya,dari tetangga, teve dan sebagainya. Akankahkebiasaan ini terbawa sampai
usia selanjutnya?

Jawaban

Imitasi atau meniru adalah hal yang lumrah terjadi pada anak Batita. Imitasi juga merupakan salah satu cara belajar yang penting, terutama bagi anak usia 2 hingga 3 tahun, sehingga bila anak tidak memiliki kemampuan untuk meniru, maka orangtua harus “aware” bahwa ada sesuatu yang “salah” dalam perkembangannya.

Nah sekarang, kalau hal2 yang ditiru adalah hal yang baik atau positif, maka hal tsb tdk akan menjadi masalah. Yang jadi masalah adalah bila Batita kita meniru hal2 buruk atau negatif dari orang2 yang ada di lingkungannya.

Keluarga sebagai lingkungan yg terdekat, terutama orgtua, harus benar2 sadar dan memahami, bahwa semua perilaku, baik yang disadari atau tidak, akan menjadi “sumber materi belajar” untuk anak. Dan untuk anak Batita, maka salah satu cara ia belajar adalah melalui imitasi atau meniru. Karena itu, orangtua sebagai “sumber materi belajar” anak, harus sangat berhati-hati dalam berperilaku bila ia menginginkan sang anak memiliki perilaku yang positif.

Khusus mengenai Batita yang bicara kotor atau melontarkan umpatan kasar, maka bisa dipastikan bahwa ia sedang “menerapkan” apa yang dia pelajari dari lingkungannya. Jelas, bahwa dia pasti tidak mengerti kata2 yang dia ucapkan, karena memang dia hanya sekedar meniru apa yang sering dia dengar atau yang menurutnya “menarik” bila diucapkan. Biasanya Batita kita awalnya hanya mengulang saja kata2 atau umpatan kotor yang dia dengar.

Namun bila kita orangtua bereaksi berlebihan saat mendengarnya mengucapkan kata2 tersebut, maka bisa dipastikan bahwa ia akan kembali mengulangi mengucapkan kata2 tersebut pada lain kesempatan. Apalagi bila Batita kita menganggap bahwa dengan mengucapkan kata2 tersebut ternyata dia mendapatkan perhatian lebih dari orangtua atau orang2 disekitarnya, meski bentuk perhatian tersebut sifatnya negatif (misalnya : si anak dimarahi).

Bagaimana mencegah hal tersebut terjadi? Efektifkah kalau orangtua mengumpat dengan bahasa asing, misalnya.
Cara mencegah agar anak tidak mengucapkan kata2 atau umpatan kotor adalah dengan menghindarkan anak dari stimulus negatif yang bisa membuat anak mengucapkan kata2 yang tidak kita harapkan tersebut. Dengan demikian, orangtua harus sangat berhati2 ketika berbicara, terutama ketika marah atau kesal. Selain itu, orang2 yang intens dan sering berada di sekitar anak (seperti : mba’, babysitter ) juga harus diberi pengarahan dan pengertian mengenai perilaku yang kita harapkan dari mereka (dalam hal ini tidak bicara kasar atau kotor). Selain itu orangtua juga harus berhati2 dengan acara TV atau film yang ditonton anak. Karena seringkali anak mendapatkan kata2 kotor atau umpatan tersebut dari acara TV yang ditontonnya.

Bahasa apa pun, kalau “judulnya” adalah umpatan, tetap saja tidak enak didengar. Jadi, apakah bila orgtua mencoba mengumpat dalam bahasa asing, lalu tidak akan ditiru anak? Yang terjadi adalah, anak juga akan mengucapkan kata2 kotor atau umpatan dalam bahasa asing tersebut dengan gaya dan cara pengucapan yang sama dengan yang dilakukan orgtuanya. Jangan dikira dengan mengucapkan kata2 atau umpatan kotor dalam bahasa asing anak tidak akan bisa mengucapkannya karena bahasa tersebut sulit untuk ditiru. Karena perlu diingat, anak2 belajar bahasa jauh lebih cepat dari pada orangtua. Jadi jelas tidak efektif bila orangtua lalu mengumpat dalam bahasa asing dengan tujuan agar anak tidak bisa menirunya.
Kalau sudah terlanjur, apa yang harus dilakukan orangtua. bagaimana mengatasinya ?

Kalau sudah terlanjur, bila kata2 tersebut didapat anak dari orangtua, maka orangtua harus segera mengevaluasi diri dan segera menghentikan kebiasaan mengeluarkan kata2 kotor atau umpatan tersebut. Karena bila orgtua sendiri belum bisa menghentikan kebiasaan buruk tersebut, maka anak juga akan tetap berbicara kotor atau mengumpat.

Bila orgtua telah berhasil untuk tidak lagi berbicara kotor atau mengumpat, maka treatment untuk anak akan jauh lebih mudah. Bila anak memiliki kemampuan verbal yang bagus, maka orangtua bisa mengajak anak untuk berdialog (dengan bahasa yg dipahami anak tentunya), bahwa kata2 yang diucapkannya memiliki arti yang tidak baik dan akan membuat oranglain tidak suka bila mendengar kata2 tersebut. Bila anak mengatakan bahwa dia mengucapkan kata2 itu karena ayah atau bunda-nya juga mengucapkan kata2 tersebut, maka orangtua bisa meminta maaf dan mengatakan bahwa ayah dan bunda juga sudah tidak mengucapkannya dan berjanji tidak akan mengucapkan lagi kata2 tersebut.

Hal yg perlu diingat adalah bahwa dialog ini sebaiknya TIDAK dilakukan langsung saat anak mengucapkan kata2 kotor, tetapi pada kesempatan lain dimana anak sedang menunjukkan mood yang bagus. Dialog ini pun bentuknya tidak harus seperti percakapan biasa. Tetapi bisa juga melalui cerita dalam bentuk fabel yang temanya bisa membuat anak mendapat insight bahwa mengucapkan kata2 tersebut bukan-lah kebiasaan yang baik.

Sedangkan pada saat anak mengucapkan kata2 kotor tersebut, hal yang perlu dilakukan orangtua atau orang yang ada di sekitarnya adalah cukup dengan mengatakan “Maaf, mama tidak suka bila ade’ mengucapkan …….. (sebut kata2 kotor tersebut)”, dengan suara tegas namun bukan dengan nada marah, juga dengan ekspresi datar dan tenang.
Bila anak mengucapkannya lagi, kita cukup mendiamkannya saja dengan tidak memberi reaksi apa pun terhadap ucapannya tersebut (cuek). Bila anak berhenti mengucapkan, segera alihkan perhatiannya pada hal2 yang dia sukai sehingga dia tidak lagi mengulangi kata2 kotor tersebut. Dan bila Batita kita melakukan hal2 yang positif apa pun meski terlihat sepele, segera beri reward dan perhatian.

Misalnya dengan mengatakan “Wah, bunda senang sekali Ade’ sudah menghabiskan sarapan pagi ini” atau “Anak ayah memang anak baik, Ayah bangga sekali karena Ade’ mau mengucapkan salam bila bertamu”.

Bagaimana membatasi pengaruh omongan jorok ini dari luar, misalnya dari Mbak-nya, dari tetangga, teve dan sebagainya.
Agar Batita kita tidak mengucapkan kata2 kotor, sebaiknya saat memilih Mba’ atau baby sitter, orgtua juga menjadikan “Tidak suka mengumpat atau mengucapkan kata2 kotor sebagai salah satu kriteria pemilihan”. Tetapi bila sudah terlanjur, maka kita harus segera memberikan pengertian dan arahan kepada si mba’ atau baby sitter tersebut.

Berikan solusi konkrit pada si mba’ bagaimana mengatasi kebiasaan buruknya tersebut secara bertahap (Misalnya, bila kesal segera menarik nafas panjang dan menghembuskannya sambil mengucapkan do’a yang bisa menenangkan, mengganti kata2 kotor yang biasa dia ucapkan dengan kata2 lain yang lebih netral, dll).
Namun bila si mba’ rasanya tidak memiliki i’tikad dan usaha yang kuat untuk berubah, maka sebaiknya orangtua segera mencari pengganti.

Untuk TV, kita bisa memilihkan acara2 yang hanya diperuntukkan untuk anak seusia Batita kita. Atau pilihkan CD2 yang menarik sebagai pengganti TV yang seringkali iklan2nya tidak sesuai untuk anak meski acara yang disajikan memang untuk anak2. Hal lain yang lebih baik adalah dengan membuat aktivitas bersama anak yang sifatnya lebih menarik dan mendidik dari pada acara TV.

Bila pengaruh buruk ini datangnya dari tetangga, sebaiknya kita meminimalisir perjumpaan anak kita dengan tetangga yang punya kebiasaan buruk tersebut. Untuk bersosialisasi, kita bisa mengajak anak berkunjung ke tetangga lain yang sama2 punya komitmen untuk mengajarkan dan mendidik anak dalam kebaikan. Namun bila sudah terlanjur (anak meniru dari tetangga), maka orangtua bisa melakukan treatment seperti yang dibahas pada pertanyaan sebelumnya.
Akankah kebiasaan ini terbawa sampai usia selanjutnya?

Kebiasaan ini bisa terus terbawa sampai dewasa bila kita sebagai orangtua memberikan treatment yang salah. Hal ini akan diperburuk bila anak berkembang menjadi individu yang impulsif, dimana ia tidak bisa mengontrol dorongan2 negatif yang muncul dari dirinya, yang sudah jelas bahwa kepribadian seperti ini adalah hasil dari sebuah proses panjang dari pola asuh dan penerapan disiplin yang salah.

Anak adalah amanah yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Tugas kita adalah menjaga, mengasuh serta mendidik mereka dengan sepenuh hati agar mereka tumbuh menjadi anak yang berbakti pada Tuhan, pada orangtua dengan menjadi anak yang mandiri, berakhlak baik dan bisa memberi manfaat bagi lingkungannya. Untuk itu orangtua juga perlu selalu terus belajar agar bisa menjadi orangtua yang amanah, dicintai dan menyenangkan.

Rasanya cukup jawaban saya mba’…… Kalau ada yang kurang jelas, atau ada yang perlu dikonfirmasi, silahkan saja. Semoga bisa bermanfaat untuk semua.

Salam,

Fajriati Maesyaroh, Psi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: