Memberi Janji Pada si Prasekolah


Pertanyaan

Ibu Fajriati,
Seringkali orangtua gampang saja mengatakan, “Iya, nanti, pulang kantor dibeliin boneka,” tapi ternyata janji itu tidak ditepati.
1. Apa efek cidera janji pada anak prasekolah, mengingat di usia ini anak mulai bisa membuat penilaian atas orangtua serta meniru apa yang dilihatnya.
2. Apa saja dampak psikologis untuk anak usia ini bisa sering melihat orangtuanya “berbohong”?
3. Apakah kebiasaan "berbohong" orangtua ini akan ditiru anak?
4. Bagaimana cara menjawab janji yang terlewati? 5. Tip dan trik membuat janji dengan si prasekolah

Jawaban

Dear Mbak,

Kejujuran merupakan salah satu nilai moral yang dikembangkan oleh manusia sejak dini. Menurut Piaget, perkembangan moral terjadi dalam 2 tahap. Tahap pertama disebut Piaget sebagai tahap realisme moral atau moralitas oleh pembatasan. Tahap kedua disebutnya sebagai tahap moralitas otonomi atau moralitas oleh kerjasama.

Dalam tahap pertama, perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan, tanpa adanya penalaran atau penilaian dari sang anak. Anak menganggap orangtua dan semua orang dewasa sebagai orang yang berwenang dan berkuasa, sehingga mereka harus mengikuti peraturan yang diberikan tanpa mempertanyakan kebenarannya. Dalam tahap perkembangan moral ini, anak menilai tindakan sebagai “benar” atau “salah” atas dasar konsekuensinya dan bukan berdasarkan motivasi di belakangnya.

Dalam tahap kedua perkembangan moral, anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya.
Karena itu, bila kita menginginkan anak untuk berperilaku sesuai dengan nilai moral yang kita harapkan, maka setalah kita menyepakati aturan-aturan dan nilai-nilai yang akan diterapkan di rumah beserta konsekuensinya, maka hendaknya ada dialog yang intens dengan anak mengenai tujuan yang lebih tinggi dari suatu aturan dan penanaman nilai yang dilakukan orangtua.

Dengan demikian, diharapkan sejalan dengan berkembangnya kognisi anak, dia akan memahami dan termotivasi secara internal untuk melaksanakan aturan-atuaran serta nilai-nilai moral yang diharapkan orgtua.
Bila kita sebagai orgtua menginginkan anak memiliki moralitas yang sesungguhnya, maka perkembangan moral harus terjadi dalam 2 fase yang jelas.

Pertama : perkembangan perilaku moral dan yang kedua : perkembangan konsep moral.
Pengetahuan tentang nilai-nilai moral tidak menjamin tingkah laku moral, karena perilaku dimotivasi oleh faktor yang lain dari lingkungan. Misalnya saja, semua orang tahu bahwa kejujuran itu penting. Tetapi untuk berperilaku jujur secara konsisten, tidak semua orang bisa melakukannya.

Anak dapat belajar untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai moral yang diharapkan melalui 3 cara. Yaitu trial and error (coba-ralat), pendidikan langsung, serta melalui identifikasi. Diantara ketiga metode tersebut, ternyata pendidikan langsung dan identifikasi adalah metode yang terbaik dan paling banyak digunakan.
Khusus untuk anak prasekolah yang dalam usianya juga mengembangkan proses imitasi, maka metode pendidikan langsung dan identifikasi sangat lah penting. Di sinilah peran orangtua sebagai role-model, khususnya mengenai nilai moral, akan sangat disorot oleh anak.

Dari teori diatas, maka jelas sekali bila orangtua harus sangat berhati-hati dalam bertingkahlaku (termasuk berbicara), dihadapan si kecil. Bila kita ingin menanamkan sifak jujur pada si kecil, maka sebagai role-model, kita lah terlebih dulu yang harus memberikan teladan mengenai nilai kejujuran.

Ingatlah, bahwa setiap anak tidak dilahirkan sebagai pendusta. Kebiasaan berbohong diperoleh anak dari lingkungannya, terutama belajar dari kebiasaan orangtua dan saudara-saudaranya.

Ketika orgtua tidak memenuhi janjinya pada anak, maka pada saat itu juga anak mulai belajar berbohong.
Dalam agama Islam, Rasulullah SAW menganjurkan kepada orangtua untuk berhati-hati terhadap masalah ini dengan sabdanya : ”Sesungguhnya kebohongan itu tidak pantas dilakukan dengan sungguh-sungguh ataupun main-main. Dan juga seorang ayah berjanji kepada anaknya kemudian janji itu tidak dipenuhinya” (Hadits Riwayat Al-Hakim).
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tamwih (penyamaran) kepada anak termasuk dusta. Rasulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, ”Kemarilah, ambilah ini!”, tetapi dia tidak memberikannya, maka perbuatan iu termasuk dusta.” (Hadits Riwayat Ahmad).

Dari keterangan di atas, jelas lah bahwa bila orgtua sering cidera janji kepada anak, maka secara tidak langsung orgtua mengajarkan anaknya untuk berbohong.

Dampak lain yang akan terlihat adalah berkurangnya rasa kepercayaan anak terhadap orgtua. Jadi jangan heran, bila suatu saat anak akan berkomentar ”Ah, ayah dan bunda tukang bohong! Janjinya kalau aku pintar belajar mau dibelikan sepeda.” Atau ”Katanya kemarin kalau bunda pulang kantor aku mau dibelikan crayon, tapi mana??? Sampai sekarang juga belum dibelikan…. Aku gak percaya lagi ah sama bunda. Bunda tukang bohong!”

Selain itu, dampak lain yang juga tak kalah hebatnya adalah anak akan belajar berbohong. Sebagai imitator yang unggul, maka anak akan meniru perilaku berbohong dari orgtuanya sebagai cara menyelesaikan masalahnya.

Misalnya : karena takut dimarahi orgtua karena memecahkan gelas, maka anak akan mengatakan bahwa kucing yang memecahkan gelas itu. Atau anak berbohong dengan mengatakan sudah mengerjakan PR agar bisa menonton TV (padahal PR belum dikerjakan, sedangkan orgtua menerapkan aturan bahwa boleh nonton Tv bila PR sudah selesai).

Karena itu, sebaiknya orgtua berusaha semaksimal mungkin untuk tidak berbohong dan selalu menepati janjinya kepada anak, meski anak kita masih kecil yang kita anggap belum mengerti. Bila orgtua terpaksa tidak dapat memenuhi janjinya, maka orgtua harus menjelaskan kepada anak mengapa ayah atau bunda tidak bisa memenuhi janjinya tersebut.
Dengan demikian anak tidak akan menyangka bahwa orgtuanya telah berdusta. Jangan lupa dan jangan malu untuk meminta maaf kepada anak karena tidak menepati janji. Sehingga anak tahu bahwa melanggar janji adalah suatu kesalahan, sehingga perlu meminta maaf bila kita tdk bisa memenuhinya.

Dalam membuat janji dengan anak, orgtua harus memperhatikan bahwa janji tersebut sanggup dilaksanakan. Misalnya, bila pada hari itu pekerjaan kantor menumpuk dan ada kemungkinan untuk pulang lebih larut, maka janganlah kita berjanji pada anak untuk membelikan sesuatu sepulang dari kantor, karena ada kemungkinan kita tidak bisa menepatinya.
Atau jangan sampai kita berjanji membelikan mainan yang harganya di luar budget yang kita miliki karena hal itu sangat berat untuk ditepati. Jadi, jangan pernah membuat janji yang kita tidak sanggup atau hanya untuk menyenangkan anak sesaat.

Wallahu’alam…
Rasanya cukup ya mba’…. Mudah2an semua pertanyaannya bisa terjawab. Saya minta maaf atas kelambatannya mengirim jawaban. Semoga berguna untuk semua. Salam saya untuk kru NAKITA…

Wassalam,
Fajriati Maesyaroh, Psi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: