Kapan Batita Digendong,Naik Kereta dan Jalan Sendiri?


Tanya

Saat mengajak batita jalan-jalan/bepergian terkadang orangtua dibuat repot. Ada kalanya anak maunya jalan sendiri tapi lokasinya tidak memungkinkan, ada kalanya tidak mau duduk di kereta dorong, tapi maunya digendong, padahal badannya sudah terlalu berat untuk menggendong dalam waktu lama.
• Jalan sendiri
– Kapan anak boleh jalan sendiri?
– Di lokasi seperti apa anak boleh jalan sendiri?
– Bagaimana pengawasan yang harus dilakukan orangtua?
– Bagaimana kalau anak menolak?
• Naik kereta dorong
– Kapan anak harus naik kereta dorong?
– Di lokasi seperti apa/kondisi seperti apa anak harus naik kereta dorong?
– Bagaimana kalau anak menolak?
– Pengawasan apa saja yang harus dilakukan orangtua?
• Digendong
– Kapan anak boleh digendong?
– Kondisi seperti apa yang membuat anak harus digendong?
– Berapa lama boleh digendong?
– Bagaimana kalau anak menolak?

Jawaban

Tugas perkembangan anak Batita yang paling terlihat dengan jelas adalah dalam perkembangan motorik nya, terutama motorik kasarnya. Jadi dalam hal ini, orangtua harus bisa memberi stimulasi pada anak karena aspek perkembangan motorik kasar (tengkurap, berguling, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, melompat, lempar bola, dll) bisa memberi pengaruh yang cukupsignifikan pada proses perkembangan secara umum di usia selanjutnya.

Misalnya saja, berdasarkan penelitian, anak-anak usia sekolah yang tidak bisa duduk diam dan berkonsentrasi saat harus mendengarkan penjelasan atau instruksi dari guru di kelas biasanya adalah anak-anak yang ternyata tidak melewati fase merangkak saat bayi.

Berjalan, sebagai salah satu tugas perkembangan anak usia batita membuat anak bisa memilikijangkauan yang lebih luas dalam usahanya melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya.Setelah seorang anak bisa berjalan, maka ia bisa lebih aktif dalam memenuhi rasa ingin tahunya terhadap berbagai hal dan kejadian yang ada di lingkungannya. Karena itu, berilah ia kesempatanuntuk melakukan aktifitas berjalan seluas mungkin.

Aktifitas berjalan yang dilakukan di tempat-tempat yang memiliki beragam kondisi, misalnyamemiliki kontur menanjak dan menurun, berpasir, rumput, tanah, lantai kayu, dll, bisa memberistimulasi yang sangat baik untuk kerja otot anak serta indera perabaan anak. Orangtua juga bisamengenalkan berbagai konsep secara konkrit saat berjalan-jalan bersama anak.
Karena itu, berilah anak kesempatan untuk berjalan sendiri seluas mungkin di tempat-tempat yang aman dari kendaraan seperti di taman, di playground, di pantai, di tempat-tempat rekreasi outdoor, juga di rumah. Namun, karena anak usia batita belum memahami konsep aman dan tidak aman,pengawasan tetap harus terus dilakukan dengan memperhatikannya secara intensif.

Rumah juga perlu dikondisikan dangan menyimpan barang-barang yang mudah pecah atau tajam di tempat yang tidak bisa dijangkau anak. Penataan rumah juga sebaiknya diusahakan agar bisa memberi ruang yang lebih luas bagi anak untuk bereksplorasi dengan lebih bebas.

Pendampingan perlu dilakukan selama kita ‘melepas’ anak untuk berjalan di luar rumah. Hal ini penting, karena selain faktor keamanan, pendampingan yang harus dilakukan orangtua atau pengasuh adalah pendampingan aktif.
Maksudnya, selama berjalan-jalan bersama, orangtua aktif mengenalkanberbagai konsep yang bisa ditemui anak di sepanjang perjalanan (misalnya, saat melihat pohon,orangtua bisa mengenalkan konsep pohon, daun, batang, ranting, warna hijau, coklat, dll). Bahkan orangtua bisa memulai mengenalkan anak pada konsep TUHAN melalui ciptaanNYA.
Hal lain yang perlu diperhatikan orangtua saat anak mulai berjalan adalah mengenai pemilihan sepatu. Carilah sepatu yang benar-benar pas dan nyaman untuk anak serta memiliki alas yang tidak licin. Sepatu yang tidak nyaman akan membuat anak malas untuk berjalan. Bila lokasi tempatberjalan-jalan cukup aman, orangtua bisa membiarkan anak berjalan tanpa alas kaki sehingga indera perabaan di kaki anak bisa terstimulasi.

Bila anak menolak untuk berjalan, orangtua perlu mencari tau sebabnya. Apakah karena lelah,sepatu yang tidak nyaman, takut, atau hanya karena malas. BIla lelah, sebaiknya orangtua tidak memaksakan anak untuk terus berjalan. Gendonglah atau dudukkan di kereta dorongnya. BIla karena takut dengan situasi baru, gendonglah ia sejenak sambil diajak berdialog tentang ketakutannya tersebut.
Setelah itu, lepaskan anak sedikit demi sedikit untuk berjalan sendiri. Bila karena malas, orangtua perlu memotivasi anak untuk berjalan sendiri.

Bujuklah anak, agar ia mau berjalan sendiri.
Misalnya, "De’ ayo balapan berjalan sama bunda sampai pohon itu yo ….. Nanti yang menangboleh beli juice di toko dekat pohon itu deh!", atau "Kakak sayang… Kalau kita berjalan ke arah sana, kita nanti bisa melihat gajah lho….. Asik kan…." (saat berjalan-jalan di kebun binatang).

Mengenai naik kereta dorong atau digendong, hal ini bisa dilakukan bila anak terlihat lelah dan mengantuk atau bila lokasi tidak aman bagi anak untuk berjalan sendiri (misalnya saat menyusuripinggir jalan raya, menyeberang jalan, di tempat parkir, saat naik atau turun dengan eskalator atau lift).

Bila di lokasi yang tidak aman tadi anak menolak untuk di gendong atau duduk di kereta dorongnya,maka kita bisa membujuknya dan memberi penjelasan, misalnya "sekarang ade’ ibu gendong dulu ya… Nanti kalau sudah sampai di seberang jalan, Ade’ boleh berjalan lagi sendiri, Ok?"

Saat anak harus makan, anak juga bisa didudukkan di kereta dorong sehingga ia tetap bisa makan dengan tertib. Yang perlu diingat adalah Meski anak berada di kereta dorongnya, orangtua tetap perlu mengawasi. Pastikan seatbeltnya terpasang dengan baik, serta jangan sek

ali-kali meninggalkan anak sendiri di kereta dorongnya tanpa ada pengawasan langsung saat berada di luar rumah.
Bila anak terlihat takut dengan situasi atau lokasi baru, orangtua sebaiknya menggendong anak sampai anakmerasa aman. Pelukan saat digendong, bisa memberikan efek rasa aman pada anak. Bila anak sudah terlihat memahami situasi dan lokasi, lepaskan ia untuk berjalan sendiri.

Jadi intinya adalah, orangtua perlu memberi kesempatan seluas-luasnya bagi anak untuk bisa mengeksplorasilingkungannya, mencapai kemandirian sesuai tahapan usianya, serta mengembangkan semua aspek yang adadalam tugas perkembangannya. Berjalan sendiri merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting untuk anak usia batita karena berjalan merupakan dasar dari keterampilan motorik kasar yang harus dicapai anak.
Faktor keamanan, baik fisik maupun psikologis perlu diperhatikan orangtua saat melepas anak berjalan sendiri. Pengawasan adalah hal yang mutlak dilakukan karena anak usia batita belum memahami penuh konsep bahaya.

Wassalam,
Fajriati Maesyaroh, Psi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: