Anakku hiperaktif atau cemburu?


Pertanyaan

Saya memiliki anak 3, si sulung perempuan, si tengah dan bungsu laki-laki. Si bungsu baru berusia 2 bulan, si tengah 4 tahun sedangkan si sulung 7.5 tahun. Masalah yang membuat saya sedih adalah si tengah. Dia sangat aktif, dalam artian dari bangun tidur sampai dia tertidur, tidak pernah berhenti bicara, bergerak, berlari, beraktivitas. Untunglah untuk urusan makanan dia tidak susah bahkan cenderung doyan makan, tapi mungkin karena terlalu banyak aktivitas tubuhnya tidak pernah kegemukan. Diusia 4 tahun berat tubuhnya standar 16kg.
Setelah adiknya lahir sepertinya dia cemburu atau bagaimana gitu. Setiap dia merasa gemas dengan orang lain (keluarga) gak segan2 dia akan menggigit, mencubit dan mendorong. Jika dia marah, dia punya kebiasaan jelek, menjambak, mencakar, mencubit yah segalanyalah. Adiknya sering menjadi sasaran kegemasannya, ditarik tangan atau kakinya, dicubit pipinya hingga merah, dipencet hidungnya bahkan baru2 ini wajah adiknya digrauk sampai lecet (sedikit), keruan saja adiknya langsung teriak menangis. Saya seringkali emosi dan reflek memukul abangnya jika saat itu saya dekat dengan mereka.
Bagaimana ya caranya menangani anak seperti itu. Disamping itu dia juga malas untuk belajar huruf dan angka, tapi dia sangat kreatif dan asyik jika dihadapkan dengan permainan semacam lego.
Apa yang sebaiknya saya lakukan agar bisa mengendalikan si tengah?
Mohon sarannya. Terima kasih.

Jawaban

Assalamu’alaykum wr wb,
Dear Ibu yang disayang ALLAH….
Allahumma baarik… Senang sekali melihat Ibu memiliki 3 org anak-anak yang lucu-lucu dan sehat. Semoga mereka bisa menjadi cahaya mata, qurrota ‘ainun buat kita orgtuanya. Aamiin….

Bu Retno, dari cerita Ibu, saya bisa sedikit menyimpulkan bahwa masalah yang terjadi pada si Abang (tengah) adalah tidak lain karena ia meminta perhatian dari Ibu dan Bapak. Pada usia 4 thn, anak memang biasanya akan cenderung lebih egois. Namun kondisi Abang semakin diperparah dengan kondisi lingkungan yang kurang kondusif bagi manajemen emosinya.
Maaf ya Bu, saya rasa, perilaku Abang yang agresif (suka memukul, menjambak, mendorong, dll) salah satunya juga disebabkan karena ia mencontoh Ibu bagaimana Ibu mengekspresikan rasa marah dan kesal kepada orang lain (dalam hal ini kepada anak, terutama kepada si Abang). Karena itu, yang pertama kali harus Ibu lakukan adalah Ibu harus mulai kembali mengatur emosi Ibu sehingga Ibu tidak mudah terpancing oleh anak dalam mengekspresikan rasa marah atau kesal secara tidak tepat. InshaALLAH, ketika Ibu sudah bisa mengendalikan dan mengekspresikan emosi Ibu dengan cara yang tepat, maka semuanya akan jauh lebih mudah.

Nah, Bila Ibu sudah bisa mengatur emosi Ibu sendiri, maka hal-hal yang bisa Ibu lakukan adalah :
1. Memberikan waktu spesial pada setiap anak. Misalnya 30 menit setiap hari untuk setiap anak. Pada saat itu, Ibu dan masing-masing anak bisa melakukan berbagai hal yang disukai anak. Misalnya : menyusun puzzle, mewarnai, menggambar, membaca buku, bermain pura-pura, dll. InshaALLAH dengan adanya spesial time untuk setiap anak, maka anak akan merasa dispesialkan juga oleh Ibu shg bisa meminimalisir rasa cemburu.
2. Mendongeng atau bercerita berbgai hal, terutama tentang hal-hal yang terkait dengan perilaku yang ingin kita timbulkan pada diri anak. Mendongen atau bercerita bisa menjadi salah satu alternatif “terapi’ yang ampuh dalam membentuk perilaku yang kita harapkan pada anak. Dalam hal ini Ibu bisa menggunakan buku cerita, atau ibu juga bisa mengarang bebas sesuai dengn kebutuhan. Gunakan intonasi, mimik wajah dan gerakan2 yang menarik perhatian anak. Boneka tangan juga bisa menjadi alat bantu yang menarik untuk anak. Cerita2 dalam bentuk fabel (dengan tokoh binatang) sangat baik digunakan untuk anak-anak usia pra sekolah seperti Abang.
3. Bila anak marah, Ibu bisa pegang kedua tangannya. Dalam posisi berhadapan, dan Ibu duduk berjongkok (agar posisi Ibu sama tinggi dengan anak), pandang lah matanya, lalu Ibu bisa menanyakan kepada Abang, “Abang kesal? Abang marah?” Lalu, dengarlah apa kata Abang. Setelah itu, tanyakan kembali, “Kalau kesal atau marah, Abang mau nya bagaimana? Sini Ibu peluk ya supaya marahnya hilang?” Setelah itu, Ibu bisa memeluknya dan mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang dia senangi. Tak perlu Ibu bertanya atau memberi komentar terlalu banyak. Nanti saat spesial time antara Ibu dan Abang, dimana kondisi emosi Abang sudah jauh lebih tenang, Ibu bisa menanyakan tentang kekesalannya tersebut. Saat berdialog, berikan masukan kepada anak dengan “bahasa”nya agar ia bisa menyalurkan emosinya dengan cara yang lebih tepat.
4. Doronglah Ayah untuk juga ikut memberikan pengaruh positif bagi pembentukan pribadi si Abang, mengingat Abang adalah anak laki-laki yang sebaiknya lebih dekat kepada figur Ayah. Saat week-end, Ayah bisa mengajak Abang untuk mekaukan berbagai aktifitas yang sifatnya maskulin, seperti mencuci mobil, motor, membetulkan sepeda atau alat-alat yang rusak, berenang atau jogging bersama, atau sekedar bermain monster2an atau gulat2an di tempat tidur.

Selebihnya, saya percaya Ibu jauh lebih mengenal anak-anak Ibu, sehingga Ibu bisa merancang cara yang tepat dalam mengajarkan anak dalam mengatur emosinya sehingga kelak anak akan memiliki kecerdasan emosi yang baik.

Mengenai belajr angka dan huruf, Ibu bisa menggunakan puzzle angka atau huruf sebagai stimulasi awal agar anak merasa senang balajar.

Demikian jawaban saya, semoga bermanfaat.
Sun sayang saya untuk anak-anak ya Bu…

Wassalamu’alaykum wr wb,
Fajriati Maesyaroh, Psi

4 responses

2 03 2010
Retno

Terima kasih atas jawaban dan masukannya.
Maaf untuk emosi saya sebagai ibu. Saya tidak pernah berlaku spt itu, karena saya tahu anak adalah peniru yang baik. Seringkali si Tengah justru yang mendapat perhatian lebih dari saya karena keistimewaannya itu. Si kakak yang seringkali protes tapi si Kakak selalu saya berikan pengertian mengapa saya dan ayahnya bersikap demikian kepada adiknya. Saya selalu mengatakan semua anak-anak ibu memiliki porsi perhatian dan kasih sayang yang sama dan sesuai dengan kebutuhan. Semua poin yang Ibu Fajriati tulis sudah dan selalu saya terapkan hingga kini. Saya berencana bila nanti saat dia sdh di TK B dan belum ada perubahan yang berarti saya akan mengajaknya untuk hipnoterapi, yang menurut Ibu saya (kebetulan beliau psikolog) terapi itu untuk menenangkan. Bagaimana menurut ibu Fajriati?
Terima kasih sebelumnya.

2 03 2010
may savitri

bagaimana kalau ayah, nenek dan orang di sekitarnya semua memberi kata2 yang juga keras? mereka semua bilang nakal, jahat, gak bisa dengar kata2 orang tua, dll. ibunya sendirian aja yang ingin pake kata2 baik. tapi dituduh memanjakan anak. mau diatur anak dst dll. ayahnya suka ngajak bergelut, tapi begitu anaknya ngajak bergelut duluan, ayahnya marah2, langsung bilang “oh, gak suka ya ayah ada dirumah? ya udah ayah pergi aja lagi”. akhirnya ya nangis teriak2 si abang. anak saya 4 tahun, dan tepat di usia 4 tahun dia dapat adek kembar laki2 juga.

2 03 2010
jonathan

ass.wr.wb,,
terima kasih u/ forum psikologi ty-jwbnya,,, jadi tambah ilmu.
Mengenai permasalahan di atas, saya juga mengalami hal yg sama, tapi bedanya si kecil belum punya adik,,, jadi, apa ada solusinya? Terima kasih….

4 03 2010
sekolahbungamatahari

@Bu Retno : InshaALLAH, dengan konsistensi, keshabaran, serta kasih sayang yang tulus ikhlash dari kita orgtua, anak-anak juga akan “belajar” menjadi sholeh, menjadi cerdas, memiliki kontrol emosi yang baik, dll. Namun, 1 hal yg perlu kita ingat, karena mereka anak-anak dan masih “belajar”, maka kita tdk bs langsung menginginkan mereka langsung memiliki kesholehan, kepandaian serta memiliki emosi yang baik. Semua butuh proses. InshaALLAH, dengan do’a dan usaha yg konsisten, kita akan “memetik” buah dari usaha dan do’a kita tsb ketika anak kita menjelang remaja.
@Bu May Savitri : Tidak mudah memang, ketika pola asuh yang ingin kita terapkan pada anak justru berseberangan dengan anggota keluarga yang lain. Namun paling tidak, sebaiknya Ibu bisa mulai mendiskusikan mengenai pola asuh ini pada suami. Carilah waktu yang tepat, suasana yang mendukung untuk membicarakan masalah anak. Gunakan kata-kata yg bisa memotivasi suami agar beliau tergerak utk bekerjasama dgn ibu dalam pengasuhan anak. Ibu lah yang lebih memahami karakter suami, InshaALLAH Ibu juga lah org yg paling tahu bagaimana seharusnya berbicara dengannya. Mudah2an ke depannya Ibu juga bisa mengkondisikan org2 lain yang ada di sekitar anak utk bisa lebih kompak dan menjadi teladan yang baik utk anak-anak.
@Pak Jonathan : InshaALLAH, solusi di atas bisa mulai bapak terapkan utk si kecil. Mudah2an ketika saatnya si kecil memiliki adik, maka dia akan jauh lebih siap dan “dewasa” dalam memandang posisinya sbg kakak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: