Ortu Bekerja, Anak suka merusak mainan


Pertanyaan

Alhamdulillah smoga dpt dibantu, tks sebelumnya : begini aku sama istri sibuk kunci utama sich perhatian klo gak salah anakku cowok kls 2 sd yg kcl 2 thn, yg besar sukanya mainan dan pasti akan dirusak dan gak tahan lama, kdg klo mainan abis main pukul2 perabot lain spt mebel dsb, yach jadi jelek or rusak juga gimana yach ini biar anak bisa ngerti???

Jawaban

Assalamu’alaykum Pak Agus. Smg bapak n keluarga selalu sehat serta berada dalam lindungan Allah SWT. Alhamdulillah, ALLAH sdh mengkaruniakan 2 org anak kepada bapak. Pastinya nikmat sekali karena mereka bisa menjadi “obat” kala kita stress dengan kesibukan sehari-hari.

Mengenai masalah anak bapak yg sulung, mengingat usianya yg sudah di kelas 2 SD, bapak bisa coba ajak si kakak bicara mengenai aturan-aturan, mana hal2 yg boleh dan mana yg tidak boleh dilakukan. Ini berlaku untuk hal apa pun, bukan hanya masalah mainan saja. Saat menjelaskan mengenai aturan yg akan diterapkan, bapak dan ibu juga harus menjelaskan alasan dari aturan tersebut. Tentu saja bahasa yang kita gunakan disesuaikan dengan bahasa anak.
“Kakak sayang… Subhanallah, banyak sekali mainan yang kakak punya ya? Sayang sekali kalau mainan ini rusak ya… Kan nantinya kakak tidak bisa main lagi dengan mainan itu…” atau, “Duh, kursi dan meja kita kok jadi rusak begini ya? Kenapa ya Kak? Rasanya malu ya kalau ada tamu yang datang…” Setelah itu, kita bisa tawarkan solusi apa yg bisa dilakukan oleh si Kakak dan konsekuensi apa yang akan diberikan bila kakak merusak mainan atau barang-barang lain yang ada di rumah. YG perlu diingat, sbg orgtua, kita harus konsisten dengan aturan dan konsekuensi yg sudah disepakati bersama.

Untuk memenuhi keinginan eksplorasi anak, bapak n ibu bisa membelikan mainan-mainan yang sifatnya bongkar pasang, seperti lego, puzzle, blocks, atau mainan2 lain yang bisa dirakit. Bapak juga bisa mengajak anak membuat mainan sendiri dari barang2 bekas yang ada di rumah.

Karena si Kakak anak laki-laki, maka bapak lah yang harus lebih dominan menjadi role model anak. Siapkan waktu spesial bersama si kakak setiap harinya, atau 2 hari dalam se-pekan (disesuaikan dgn waktu kerja bapak). Tidak perlu terlalu lama, 30 menit setiap hari atau 2 – 3 jam setiap minggu, itu sudah cukup. Gunakan saat spesial ini (Guys Time) untuk melakukan berbagai aktivitas yg sifatnya maskulin, seperti mencuci mobil, membetulkan sepeda atau mainan yg rusak, atau hanya sekedar baca buku bersama, berenang, lari pagi atau menemani anak bermain di play ground atau menemani anak saat melakukan aktivitas yg disukainya. Saat bersama si Kakak itu lah, bapak bisa menyisipkan “pesan2″ tentang karakter yang ingin dibentuk terhadap anak.

Kita juga jangan berhemat dalam memberi pujian pada anak. “Anak ayah yg pandai, yg sholeh, yg keren, yg baik, dll” haruslah sering kita berikan saat anak melakukan hal positif, apa pun itu.

Memang, saat anak2 masih kecil, perjuangan kita memang akan terasa sangat berat dalam mendidik dan membentuk karakter positif mereka. Tapi InshaALLAH, bila kita sudah berusaha menanamkan semua hal yg positif tersebut sejak dini, maka ketika mereka beranjak remaja dan menjadi dewasa, maka kita sebagai orgtua akan jauh lebih mudah dalam mengarahkan mereka ke arah yang juga lebih baik.

Terimakasih atas kepercayaan Pak Agus untuk sharing di forum ini. Salam hormat saya untuk Ibu, dan salam sayang untuk anak-anak.

Wassalamu’alaykum wr wb
Fajriati Maesyaroh, Psi

One response

25 03 2011
aan kurniawan

549851267

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: