Anak Usia SD Ditinggal Sendiri di Rumah


Pertanyaan

Banyak orangtua yang merasa anak usia ini sudah bisa ditinggal sendirian di rumah. Misalnya orangtua pergi kondangan selama beberapa jam. Ada pun pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah:
1. Benarkah anak usia ini sudah bisa ditinggal sendirian di rumah?
2. Kalau anak belum berani, bagaimana mengajarkannya?
3. Sebaliknya kalau anak terlalu berani, bagaimana menyikapinya?
4. Apa saja yang harus diajarkan pada anak saat ditinggal sendirian di rumah?
5. Bolehkah sekaligus “dititipi” untuk menjaga adik?

Jawaban

Dalam hal kemandirian, anak usia sekolah (7 – 12) thn memang dituntut untuk mengembangkan dan memiliki kemandirian dasar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, diharapkan dengan bertambahnya usia, anak mampu mengurus diri nya sendiri dan bahkan bisa bertanggung jawab terhadap tugas-tugas rumah tangga yang diberikan oleh orangtua.
Tidak bisa dipungkiri bahwa aspek kemandirian anak, sangat tergantung pada pola asuh serta disiplin yang diterapkan oleh orangtua. Jadi, kita bisa lihat mengapa ada anak yang ketika masuk di kelas 1 SD sudah bisa ”enjoy” sendirian tanpa ditemani orangtuanya, tetapi ada juga anak yang masih harus ditunggui bahkan ditemani oleh orangtuanya sampai di dalam kelas.

Terkait dengan pertanyaan di atas, maka untuk meninggalkan anak sendirian di rumah, banyak hal yang harus kita ”persiapkan” sejak dini. Keberanian untuk berpisah dengan orgtua, kemandirian dalam memenuhi kebutuhan dasar (seperti : Makan, minum, buang air kecil dan besar), penguasaan terhadap seluk beluk rumah (bisa membuka dan mengunci pintu, mengetahui tempat penyimpanan kotak P3K, bisa mematikan kompor, mematikan kran air), bagaimana bersikap kepada orang asing yang mungkin datang ke rumah saat orgtua tidak ada, serta mengetahui apa yang harus dilakukan bila terjadi emergency (misalnya : kebakaran, ada yg terluka).

Dari keterangan di atas, meski faktor keberanian anak merupakan hal mendasar dalam kemandirian, namun hal tsb tidak lah cukup bila kita ingin meninggalkan anak sendirian di rumah tanpa ada org dewasa yg menemani. Faktor keberanian, haruslah ditunjang dengan faktor2 lain yg sudah saya sebutkan di atas. Mengapa? Karena kita tidak akan pernah tahu hal2 apa saja yang bisa terjadi saat kita pergi sementara tidak ada orang dewasa yang bisa membimbing anak atau membuat keputusan saat terjadi peristiwa yg sifatnya emergency.

Jadi, latihlah anak-anak sejak dini untuk berani, mandiri, juga percaya diri, yang kemudian orgtua dapat memberi bekalan pengetahuan dan tips seputar P3K, savety, bagaimana menghadapi orang asing, dan apa yang harus dilakukan bila terjadi hal2 yg sifatnya emergency. Orgtua juga harus memberitahu dan menempel nomor2 telp penting di tempat yg mudah terlihat oleh semua orang di rumah, termasuk anak2. Dengan demikian, diharapkan, saat anak berusia 8 atau 9 tahun, orgtua sudah bisa meninggalkannya sendiri di rumah.

Oh ya, untuk melatihnya, harus dilakukan secara bertahap. Orgtua jangan langsung meninggalkan anak2 sendiri dalam jangka waktu yang lama. Mulailah dari 0.5 jam dahulu untuk jarak yang tidak terlalu jauh (misalnya untuk berbelanja di toko yg masih terletak di dalam lingkungan rumah).

Setelah itu barulah ditambah lagi durasi waktunya menjadi 1 jam, lalu bisa 2 jam, lalu 3 jam. Jangan lupa sebelum pergi, orgtua harus me-ngecek dahulu keadaan rumah (matikan kompor, kran air, menyiapkan lampu emergency bila listrik padam), dan buatlah perjanjian dgn anak kapan saja/berapa kali orgtua harus menelpon ke rumah sehingga anak tetap merasa aman meski orgtua tidak ada di rumah.

Mengenai ”dititipi” adik, kita sebagai orgtua harus benar2 cermat dalam mengambil keputusan, karena itu artinya kita menyerahkan pengasuhan adik kepada kakak yang juga harus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini, faktor usia si kakak, juga si adik, perlu dipertimbangkan.

Idealnya adalah dalam hal ini si adik pun sudah memiliki keberanian dan kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya sendiri (minimal sudah bisa makan dan minum sendiri, buang air sendiri), sehingga si kakak bisa kita ”bebankan” hanya untuk mengawasi dan mengajak adik bermain sambil tetap waspada dengan keadaan di rumah. Ingat!, meski si kakak lebih dewasa dan matang, tetap saja secara usia (7 – 12thn) bukan lah usia yg tepat untuk menyerahkan sepenuhnya tanggungjwab pengasuhan si adik kepada kakak.

Jadi, orgtua harus ingat waktu dan tidak terlalu lama meninggalkan anak2 sendirian di rumah tanpa ada yang mengawasi.

Wassalam,
Fajriati Maesyaroh, Psi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: