Sifat Sensitif pada Anak Balita


Pertanyaan

Anak yang berada pada golden age (0-3th) akan mulai mengenal dan menganalisa serta meniru lingkungan yang ada di sekitarnya. Umumnya anak2 secara normal akan merespon dengan ikut bergabung dan menirukan hal2 yang baru dilihatnya. Bagaimana dengan anak yang mempunyai sifat sensitif (sangat pemalu, tidak percaya diri dan mudah tersinggung), kadang dia lebih suka menghubungkan sifatnya dengan rasa takut yang berlebihan sehingga lebih suka menyendiri dan kurang bisa beradaptasi dengan baik. Dan karena sifatnya ini dia akan menyalurkan rasa takutnya dengan mudah menangis ketika merasa diremehkan, tidak diperhatikan, atau dipermalukan di depan teman2nya. Adakah solusi yang TOP CER supaya sifat ini perlahan bisa dinormalkan (tidak berlebihan) sehingga anak2 yang seharusnya bisa bergembira dengan lingkungannya yang baru tidak menganggap lingkungan tersebut justru mengekangnya menunjukkan kreatifitasnya.?????????

Jawaban

Dear Ibu,

Benar sekali pendapat Ibu mengenai golden age, dimana pada masa2 tersebut anak akan mengadopsi dan mengimitasi semua perilaku dan nilai2 yg diterapkan di lingkungannya. Begitu pula dengan pembentukan self concept, self esteem dan self confident yang juga mulai terbentuk dan berkembang sejak anak dilahirkan. Bila lingkungan terdekat anak (: keluarga, terutama orgtua) adalah lingkungan yang hangat, supportif, menerima kelebihan dan kekurangan anak tanpa sarat, penuh cinta, maka InshaAllah anak akan mengembangkan self concept dan self esteem yg positif, serta self confident diri yg tinggi.

Pembentukan karakter, bukan lah suatu proses yang instan. Dibutuhkan keshabaran yang luar biasa agar seorg anak kemudian berkembang secara positif menjadi anak yg sholeh, yg mandiri dan bahagia dengan dirinya.
Karena itu, bila anak kemudian berkembang menjadi pribadi dengan self consept dan self esteem yang cenderung negatif serta self confident yg cenderung rendah, maka sebenarnya yg harus pertama kali melakukan introspeksi adalah kita, para orgtua. Apakah selama ini kita sering membanding-bandingkan anak2 kita? Apakah kita lebih sering menegur secara negatif pada perilaku anak yg negatif, sementara ketika ia melakukan suatu hal yg positif kita tidak memberi perhatian sama sekali? Apakah kita sering memberi label2 negatif (seperti : nakal, tidak bisa diberitahu, sering menyusahkan, penakut, pemalu, cerewet, dll) kepada anak kita? Apakah kita menuntut prestasi pada anak di luar kesanggupannya? Seberapa sering kita berdialog dengan anak? Sudahkah kita menjadwalkan sedikit waktu kita untuk bermain bersama anak tercinta? Seberapa sering kita mengungakapkan rasa cinta kita pada anak? Sudahkan kita memberikan pujian dengan tulus saat anak melakukan sesuatu hal yang positif?

Setelah melakukan introspeksi, maka kita sebagai orgtua harus segera mengevaluasi pola asuh, penanaman disiplin, sikap serta perilaku kita terhadap anak.

Jadikanlah rumah menjadi tempat ternyaman bagi anak, dimana ia bisa menyalurkan dan mengekspresikan emosinya, bisa diterima apa adanya, bisa mendapatkan support yg ia butuhkan, merasakan kehangatan dari ayah dan ibu nya, bisa bertanya dan mengungkapkan pendapat mengenai apa pun, belajar menyelesaikan masalah, dll.
Lakukanlah dialog sesuai dengan bahasa anak, bisa melalui cerita, dongeng dengan topik "membangun rasa percaya diri". InshaALLAH dongeng dan cerita bisa menjadi salah satu metode terapi untuk mengatasi rasa kurang percaya dirinya.

Berikanlah pujian untuk setiap perilaku positif yg ditampilkan anak meski hal itu kita rasakan sbg suatu hal kecil. "MashaAllah…. Kakak memang anak Ibu yang hebat!! Sudah berani di kelas sendiri, tdk lagi ditemani Ibu".
Untuk perilaku yg negatif, sebaiknya kita hanya mengungkapkan ketidaksukaan kita saja, setelah itu jangan terlalu kita fokus pd perilaku tersebut. "Maaf Sayang, Ibu sedih sekali kalau kamu berteriak-teriak jika meminta sesuatu. Kamu pasti bisa meminta dengan cara yang lebih baik."

Hindari memberikan label2 yg cenderung negatif pada anak, meski hal tersebut adalah "kekurangannya". Misalnya, seringkali secara tdk sengaja kita membicarakan kekurangan anak dgn orgtua lain dihadapan anak, atau saat kita curhat mengenai perilaku anak terhadap suami kita. "Ayah, si Abang ini pemaluuuuu sekali. Masa disuruh nyanyi di depan kelas aja pake nangis…Malu dehhhh…."

Support anak, dan bukan memaksa. Bila kita mengatakan, "Ayo Ade’, kamu pasti bisa !!!", namun kemudian setelah anak mencoba dia gagal, maka kita bisa mengatakan "It’s Ok sayang… Ibu tetap bangga dan sayang sama Ade’. Yang penting, Ade’ sudah mau coba…"

Kita juga bisa mengungkapkan kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki oleh anak, sehingga meski ia memiliki kekurangan di satu sisi, namun di sisi lain ia memiliki kelebihan yg mungkin tdk dimiliki oleh anak lain.
InshaAllah, bila kita melakukannya mulai dari rumah, anak pun akan mengadaptasi dan menggeneralisir hal-hal yg ia dapatkan di rumah ketika ia berada di luar rumah. Meski memang ada tipe anak yang "butuh pemanasan" lebih lama, namun bila lingkungan di rumah suppprtif, maka InshaALLAH perlahan tapi pasti ia akan bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Demikian jawaban dari saya. Semoga bisa bermanfaat untuk semua ya Bu…

Salam hangat,
Wassalamu’alaykum wr wb
Fajriati Maesyaroh, Psi

6 responses

14 12 2009
Nuraini

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya mmpunyai anak laki-laki 1,2 thn yang sangat pemalu dan takut dengan orang baru,bagaimana caranya agar anak saya tidak pemalu n takut lg
Wassalamualaikum Wr. Wb

15 12 2009
Siti nuraini

Assalamualaikum Wr. Wb.
Saya seorang ibu yg mmpunyai anak laki2 brusia 1,2thn, dirmh anakku ceria,tp jika brtemu orang bru anakku sgt takut n pemalu
Tlg beri solusi supaya anakku gak takut lg,thx
Wassalam

2 03 2010
titisari maharani

anak saya cowok usia 2.9 th.dia penakut dan pemalu.pada dasarnya dia cerdas tapi dia tidak mau mengeksplor kemampuannya di muka umum.apa yan diajarkan di sekolah selalu di praktekkan dirumah,menyaynyi,menulis dll.tapi di sekolah ndak mau/harus di paksa…bagaimana caranya agar anak saya bisa berani mengeksplor kemampuannya di muka umum…

28 06 2010
Ummu Abdullaah

Bismillaah,assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh ana janda cerai 34 thn dngn 3 anak,punya masalah dngn ikhwan berumur 24 thn,tmn fb,tpi d dunia nyata ana tdk knal,awalnya ana ad dia duluan karena catatannya mnarik,ana jg yg kirim psan dan ngajak chatt duluan karena ada kprluan mminta info tntang sseorng,ktika urusn selesai ana tdk berinteraksi dngn dia,prnh wktu chatting,ana jadikn dia ptrjemh wktu itu chatt dngn orng asing,tpi sprtinya dia tdk thu ana jadikn pntrjemah,kmudian sering kali dia yg mmulai mngajak chatt,dia sring curhat k ana,sampai sbagian rahasianya dia critakn k ana,di suatu chatting prnh dia mngatakn “ummu ana nangis…”klo chatt sama dia bisa lama walo tdk setiap hari,dia sering mngatakn bhwa banyak akhwat yg mnyukai dia,mngejar2 dia,mngatakn dia ganteng,dia jg mngatakn bhwa dia pintar masak,sayang sama anak2,mudah mnangis,berhati lembut,sampai dlm hati ana apa bertanya apa ikhwan ini ujub,….dia jg bilang :”padahal ana merasa biasa saja “dia jg sringkali mngukur sesuatu dngn dirinya sendiri,ktika ana dngr banyak akhwat gndrung sama dia,ana mmberi saran untuk mnikah karena dia jg sdh mapan,tpi dia bilang ana akn bershobar mnghdpi akhwat2 itu,dia jg masih ingin bebas,pdhl sdh banyak akhwat patah hati dngn dia,dia mngatakn akn mnikah jika jatuh cinta,tpi dia sulit sekali jatuh cinta katanya,dari beberapa kali chatt sama dia ana mnyimpulkn dia itu manja,dia egois,ujub,mau2nya sendiri, mngukur dngn dirinya sendiri,dia jg bilang klo ana bilang A maka tetap A,pd suatu chatting,ana brcrita tntang diri ana bhwa ada ikhwan yg mngajak ana nikah tpi dr manhaj yg berbeda,lalu dia mngatakn tdk boleh dn mnyuruh ana bershabar,lalu ikhwan yg ngajak ta’aruf itu jg muncul mngajak ana chatting,ana agak gu2p,sprtinya ingin mmgang seseorng karena ana bingung,lalu ana tanya k dia “apa yg hrs ana lakukn “lalu dia cuma bilang hanya Allah dan ummu yg thu,jaga diri ya katanya kmudian dia mngucapkn salam dn dia mngakhiri chattingnya.Kmudian beberapa menit kmudian dia muncul lgi di chatt,dia minta ana meremove dia,tpi ana tdk mau karena tdk ada alasan,dia ucapkn selamat tinggal,kmudian ana tanya alsannya,dia mngatakn ana mnggampangkn fitnah,dan sdh berkali2 di suruh shabar,lalu ana dianggap tdkmau mnerima dakwah,lalu ana mmberi jwbn untuk membela diri,dan akhirnya dia mngatakn “ana yg remove,”lalu ana diremove,ana kok tdk trima diprlakukn sprti ini,ana smpai nangis,tadinya saling prcaya,menasehati,terbuka kok jadi bgini,ana tdk mngerti,dibenak ana kdng tergoda berfikir bhwa dia itu kpingin ana mohon k dia,mungkin ngjar2 dia,ada yg bilang k ana dia itu mpromosikn dirinya k ana,tpi berusaha mnepis tdk munkinlah umur ana jauh di atasnya,dn ana janda,yg ingin ana tanyakn bnar tdk pndapat ana bhwa ikhwan ini manja ?sifatnya jg mirip mntan suami ana,dan bisa anti analisis apa maunya dia ? Wallahu’alam wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

30 09 2010
Naura b'free

Anak saya berumur 3th pling ssh t beradaptasi,lebih2 dgn teman sebayanya,sangat penakut bahkan dmana anak2 pd bermain dia cm ngeliatin smbl memegang saya,,,dan kbiasaan kl ada maunya kdg dg teriak2,bhkn krn saya org yg tempramen srg tdk sengaja mencubit dan memukulnya,tp dia bknnya diam mlh tmbh jd dan bls memukul,,,bagai mana shrsnya tindakan saya? Kdg kl dia dah diam saya merasa berdosa sekali dan sgt menyesal.

26 04 2011
rendi

assalamu’alaikum wr.wb..salam kenal,,karakteristik anak memang dibentuk sejak kecil,,kadang tanpa kita sadari kita sudah membentuk karakter anak,,saya punya anak cowok,,sekarang sudah 10 bulan,,belajar jalan,,bicara,,dll.ketika masih 3 bulan saya sering memutarkan lagu untuk menemani biar cepat tidur,,sebenarnya lagunya pelan dan ada unsur kerohanian (opick misalnya),,akan tetapi ternyata itu sangat membantu pembentukan karakter anak,,sayangnya pengaruhnya kurang baik,,anak saya seperti mudah marah,,ketika kita mencoba memberi sentuhan (hanya disentuh halus) dan jika ia tidak suka maka ia langsung menendang-nendang,,setelah saya tanyakan ternyata lagu sehalus apapun yang ada irama musiknya itu berpengaruh buruk pada anak,,,hentakan yang ditimbulkan dari iramanya sangat berpengaruh,,memang benar seperti lagu mozart dll membantu perkembangan otak anak,,akan tetapi perkembangan otaknya disertai pembentukan karakter yang menurut saya kurang baik,,jadi menurut saya bukan hanya perilaku fisik yang baik yang kita berikan,,,berikan juga masukan rohani yang baik,,lagu qasidah pun juga gk baik,,kalo ayat-ayat Al Qur’an yang tanpa dilagukan Insya Allah akan berpengaruh baik,,,semoga bermanfaat,terima kasih. Assalamu’alaikum wr.wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: