Anak Usia Sekolah yang Kecanduan Hobinya


 

Pertanyaan

Ibu Fajriati,
Ada anak-anak usia sekolah yang saking kecanduan dengan hobinya sehingga pelajarannya jadi keteter. Ada pun pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah:
1. Hobi positif
(misalnya membaca buku, bermain catur, mengutak-atik komputer dan sebagainya)
- Benarkah hobi semacam ini positif?
- Apa tanda-tanda kalau anak sudah kecanduan?
- Mengingat hobi ini positif, apa yang sebaiknya dilakukan orangtua? Haruskah dilarang atau justru diarahkan?
- Bagaimana cara mengarahkannya?
- Perlukah anak diikutkan beragam kompetisi sesuai hobinya sehingga bisa berprestasi?
- Perlukah nantinya anak diarahkan ke sekolah kejuruan yang sesuai dengan hobinya itu?
- Tips untuk orangtua
2. Hobi negatif (misalnya bermain PS, bermain games, kartu dan sebagainya)
- Mengapa anak sampai bisa kecanduan hobi ini? benarkah karena orangtua terlalu membiarkan anak sebelumnya?
- Apa tanda-tanda kalau anak sudah kecanduan?
- Mengingat hobi ini negatif, apa yang harus dilakukan orangtua untuk mengatasinya?
- Tips untuk orangtua

Jawaban

Pada dasarnya, orangtua harus mengetahui interest atau minat yang dimiliki anak terhadap sesuatu hal. Bahkan bukan hanya sekedar untuk diketahui saja, melainkan orangtua diharapkan bisa mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki anak, sehingga bisa bermanfaat bagi anak di masa depannya.
Mengenai hobi, selama hobi tersebut tidak melanggar norma agama, hukum dan masyarakat, pada dasarnya boleh2 saja, asalkan jelas aturan mainnya.

Memang, orangtua sebaiknya lebih mengembangkan hobi yang cenderung positif, dalam artian hobi tersebut bisa memberikan nilai tambah pada kemampuan, keterampilan, kreativitas, pengetahuan dan wawasan anak. Membaca buku, berolah raga, melukis, menyanyi, drama, melakukan penelitian/percobaan adalah sebagian kecil contoh dari hobi yang cenderung bernilai positif.

Bila orangtua menemukan anaknya berminat pada hobi2 semacam ini, maka sebaiknya mereka mendorong anak untuk lebih menekuni hobinya tersebut. Misalnya saja, menyarankan anak untuk ikut sanggar atau club, dimana anak bisa mendapat arahan dan bimbingan lebih mengenai hobinya tersebut, juga dapat berinteraksi dengan anak2 lain yang memiliki hobi sejenis.

Bila secara finansial ada kelebihan, baik juga bila orangtua memberikan fasilitas pada anak sehubungan dengan pengembangan hobinya tersebut. Hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua sehubungan dengan hobi anak adalah tetap menerapkan aturan main yang jelas, sehingga anak tidak larut secara berlebihan terhadap hobinya dan melupakan kewajibannya yang utama.

Jadi, buatlah kesepakatan dengan anak mengenai prioritas kegiatan dan pengaturan waktu serta konsekuensi yang harus dilakukan bila anak melanggar kesepakatan tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar anak tidak melupakan kewajibannya yang utama serta untuk melatih tanggungjawab anak.

Mengenai kompetisi2 yang banyak diadakan, tak ada salahnya bila orangtua mendorong anak untuk mengikuti kompetisi tersebut. Namun satu hal yang harus dicamkan dalam benak orangtua adalah jangan memaksa anak, apalagi bila orangtua memberikan target2 perolehan prestasi yang harus dicapai dalam kompetisi tersebut.

Ingatlah bahwa tujuan utama dari kompetisi adalah untuk melatih rasa percaya diri anak serta menambah pengalaman dan memperluas pergaulan yang semua itu akan sangat berguna bagi pengembangan diri anak.

Untuk pemilihan sekolah anak ke depan, bakat, minat dan hobi yang dimiliki bisa menjadi salah satu acuan pertimbangan.
Selaraskan pula pertimbangan dari sisi minat dan hobi tersebut dengan kemampuan (dalam hal ini bisa diukur dari prestasi yang dicapai anak dalam minat dan hobinya tsb) dan cita-cita anak ke depan. Dalam hal ini orangtua pun harus bijak dalam memahami keinginan dan cita2 anak.

Ingatlah, bahwa bidang apa pun bila ditekuni dengan sungguh2, InshaAllah akan memberikan hasil yang baik.
Mengenai hobi yang cenderung terkesan negatif, seperti menonton TV, bermain games atau PS, sebenarnya terjadi karena kurangnya kontrol orangtua terhadap aktivitas tersebut.

Selain itu tidak adanya alternatif kegiatan lain yang menarik bagi anak juga bisa membuat anak bingung dan tidak memiliki pemikiran lain selain melakukan aktivitas tersebut, meski orangtua sudah melarangnya.
Menurut saya, menonton Tv, bermain games, sebenarnya boleh2 saja selama ada aturan yang jelas. Misalnya : kapan serta berapa lama waktu yang diperbolehkan, jenis acara atau games yang boleh dilihat dan dimainkan, serta adanya orangtua yang mendampingi saat anak menonton atau bermain games.
InshaAllah, berdasarkan pengalaman saya sendiri, selama orangtua konsisten dengan aturan yang diberikan, maka anak tidak akan kecanduan. Selain itu, orangtua juga harus bisa memberikan alternatif kegiatan lain yang menggugah minat anak, sehingga anak akan lebih menyukai alternatif kegiatan yang kita berikan ketimbang menonton TV atau bermain games.

Segala hal yang semula sifatnya boleh atau netral bisa berubah menjadi cenderung negatif bila dilakukan atau dikonsumsi secara berlebihan hingga seorang anak, misalnya bisa sampai tidak mau mandi, makan, dan belajar karena asik bermain PS.
Karena itu penting bagi orangtua untuk tidak hanya menetapkan aturan tetapi juga konsisten dalam menjalankannya. Jangan lupa pula, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, orangtua harus bisa dan kreatif dalam menciptakan alternatif kegiatan yang sifatnya menyenangkan dan bisa mengasah bakat dan minat anak, sehingga anak tidak lagi terpaku pada TV, PS atau kegiatan2 lain yang sifatnya monoton dan kurang bisa memberi nilai tambah pada anak.
Semoga Bermanfaat

Wassalam
Fajriati Maesyaroh, Psi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: